BAB I
PENDAHULUAN
Manusia adalah mahluk sosial yang berkomunikasi dan berintekrasi dengan masyarakat dan lingkungan sekitarnya, baik itu lingkungan tempat tinggal maupun lingkungan kerja. Manusia sebagai mahluk sosial di dalam memenuhi kebutuhan yang merupakan bagian dari tujuan hidupnya adalah dengan cara bekerja. Menurut Panji Anggoro dan Wiwik Widiyanti (1990:31) kerja adalah aktivitas dasar dan dijadikan bagian essential dari kehidupan manusia dan memberikan status mengikat seorang individu lain serta masyarakat kerja merupakan aktivitas sosial yang memberikan isi dan makna pada kehidupan.
Orang-orang memasuki organisasi tentunya sesuai dengan keinginannya untuk mencapai cita-cita yang tidak dapat dicapainya secara sendiri. Untuk itu, diperlukan peranan komunikasi organisasi dalam mempermudah individu berkomunikasi dan berintekrasi dengan individu lain untuk memperoleh informasi
yang dibutuhkan. Melalui komunikasi terjadi pertukaran informasi, gagasan, dan
pengalaman.
Komunikasi organisasi merupakan suatu proses dinamik yang berfungsi sebagai alat utama bagi sukses atau tidaknya organisasi dalam hubungannya dengan
lingkungan tugas. Pincus (1986) menemukan komunikasi berhubungan positif dengan kinerja, tetapi tidak sekuat hubungan antara komunikasi dengan kepuasan. Chen et al., (2006) menyatakan komunikasi organisasi berhubungan positif dengan komitmen organisasi dan kinerja dan berhubungan negatif dengan tekanan pekerjaan. Namun demikian Rodwell (1998) menyatakan bahwa variabel komunikasi berhubungan negatif dengan kinerja.
Komunikasi adalah usaha mendorong orang lain menginterprestasikan pendapat seperti apa yang dikehendaki oleh orang yang mempunyai pendapat tersebut. Dengan komunikasi diperoleh titik kesamaan saling pengertian. Kemungkinan salah pengeertian dengan demikian dapat dihindari, karena tidak adanya atau kurang sempurnanya penrimaan mereka yang dihubungi dapat dicegah. Walupun komunikasi sempurna jarang ada, tetapi orang perlu berusaha sedapat mungkin melakukan hal itu. Andai kata tidak, dia tentu tidak akan berhasil menjalankan fungsinya, apalgi sebagai manajer yang memimpin. Seperti diketahui memimpin itu mengusahakan melalui orang lain agar segala sesuatu itu terlaksana seperti diharapkan. Kegiatan ini memerlukan komunikasi; tentu saja komunikasi yang baik dan tepat. Orang harus dapat mengirimkan berita yang jelas dan dimengerti oleh orang lain. Selanjutnya berita tersebut diterima dengan baik dan diikuti untuk dilaksanakan oleh orang lain. Ini selanjutnya menimbulkan sikap dan moral berorganisasi yang baik. Akhirnya orang akan dapat mempengaruhi orang lain secara otomatis dan proses berorganisasi berjalan dengan sendirinya.
Komunikasi memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, baik secara individu, kelompok, maupun dalam organisasi. Komunikasi dalam organisasi memiliki kompleksitas yang tinggi, yaitu bagaimana menyampaikan informasi dan menerima informasi merupakan hal yang tidak mudah, dan menjadi tantangan dalam proses komunikasinya. Dalam komunikasi organisasi, aliran informasi merupakan proses yang rumit, karena melibatkan seluruh bagian yang ada dalam organisasi. Informasi tidak hanya mengalir dari atas ke bawah, tetapi juga sebaliknya dari bawah ke atas dan juga mengalir diantara sesama anggotanya.
Untuk membentuk kerjasama yang baik antara organisasi dan para anggota, maka dibutuhkan bentuk hubungan serta komunikasi yang baik antara para anggota organisasi. Hubungan komunikasi yang terjadi dalam organisasi itu disebut dengan pola komunikasi dalam struktur organisasi. Pola komunikasi dalam struktur organisasi merupakan bentuk interaksi pertukaran pesan antar anggota organisasi, baik komunikasi secara verbal maupun non verbal. Organisasi tidak mungkin berada tanpa komunikasi.
Menurut McNamara, keterampilan mengelola rapat merupakan perjalanan
menuju komunikasi yang efektif yang merupakan salah satu prinsip-prinsip pokok
komunikasi informal organisasi. Pertemuan-pertemuan dianas yang melibatkan pada staff dan pegawai, baik itu yang diselenggarakan di markas besar maupun di kantor-kantor cabang, dan juga konfrensi tingkat nasional, merupakan acara berkumpul yang bermanfaat untuk menggalang kebersamaan dan keakraban, sekaligus untuk menciptakan hubungan yang baik antara pihak manajemen dengan para pegawai. Dalam acara-acara tersebut, berlangsung suatu bentuk pola komunikasi organisasi yang paling efisien, yakni komunikasi tatap muka.
Salah satu bentuk aktivitas komunikasi yang dapat mempertemukan antara
karyawan dengan atasannya adalah kegiatan regular meeting yang dilakukan oleh
organisasi. Kegiatan regular meeting adalah salah satu bentuk dari aktivitas pola komunikasi organisasi yang dilakukan perusahaan untuk membentuk iklim komunikasi yang positif dengan memelihara hubungan yang harmonis antara perusahaan atau pihak manajemen dengan para karyawannya.
Pelaksanaan regular meeting dalam suatu organisasi merupakan sarana teknis atau suatu kegiatan metode komunikasi yang memiliki kekuatan mengelola sumber daya manusia dan lain sebagainya demi pencapaian tujuan organisasi. Kemudian, pada akhirnya hal tersebut bermuara pada peningkatan produktivitas perusahaan baik dilihat secara kuantitas maupun kualitas, bentuk produk-produk barang atau pemberian jasa yang ditawarkan kepada publik sasarannya (konsumen dan customer).
1.2 Tujuan
Adapun tujuan yang akan dicapai dalam penulisan mkalah ini adalah untuk mengetahui konsep dari komunikasi organisasional.
1.3 Manfaat
Adapun manfaat penulisan makalah ini adalah :
1. Secara teoritis, diharapkan dapat memperluas pengetahuan penulis mengenai kajian komunikasi organisasi.
2. Secara akademis, diharapkan dapat memberi kontribusi akademis tentang komunikasi organisasi untuk mata kuliah OMPE.
3. Untuk menambah ketrampilan dan khasanah berpikir mahasiswa.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian, Komunikasi Organisasi dan Komunikasi Organisasi
2.1.1 Komunikasi
Secara harfiah, Komunikasi atau communication berasal dari bahasa latin, yaitu communicates yang berarti berbagi atau menjadi milik bersama. Komunikasi menurut ahli kamus bahasa menunjuk pada suatu upaya yang bertujuan berbagi untuk mencapai kebersamaan.
Beberapa ahli mengemukakan defenisi komunikasi sebagai berikut :
1. Sarah Trenholm dan Arthur Jensen ( 1996 : 4 ), komunikasi adalah suatu proses di mana sumber mentrasmisikan pesan kepada penerima melalui beragam saluran,
2. Everett . Rogers dan Lawrence Kincaid ( 1981 : 18 ) menyatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses di mana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi antar satu sama lain, yang pada gilirannya terjadi saling pengertian mendalam.
3. Berelson dan Steiner ( 1964 ), komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian dan lain-lain. Melalui penggunaan simbol- simbol seperti kata-kata, gambar-gambar, angka-angka dan lain- lain.
4. Everett M. Rogers mendefenisikan komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih, dengan maksud
untuk merubah tingkah laku mereka (Cangara, 2000:19).
Jadi komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi atau gagasan kepada orang lain tentang suatu hal agar dapat di mengerti oleh si penerima informasi dan mampu memberikan pengertian yang mendalam, melalui kata-kata, simbol-simbol, gambar-gambar, angka-angka dan lain-lain.
2.1.2 Organisasi
Salah satu hal penting dalam hal memahami komunikasi organisasi adalah kita harus memahami pendekatan-pendekatan cara berpikir dan cara pandang tentang organisasi. Istilah organisasi berasal dari bahasa Latin organizare, yang secara harafiah berarti paduan dari bagian-bagian yang satu sama lainnya saling bergantung. Di antara para ahli ada yang menyebut paduan itu sistem, ada juga yang menamakannya sarana.
Beberapa ahli mengemukakan defenisi organisasi sebagi berikut :
1. Ernest Dale mendefenisikan organisasi adalah suatu proses perencanaan yang meliputi penyusunan, pengembangan, dan pemeliharaan suatu struktur atau pola hubunngan kerja dari orang-orang dalam suatu kerja kelompok.
2. Cyril Soffer mendefenisikan organisasi adalah perserikatan orang-orang yang masing-masing diberi peran tertentu dalam suatu system kerja dan pembagian dalam mana pekerjaan itu diperinci menjadi tugas-tugas, dibagikan kemudian digabung lagi dalam beberapa bentuk hasil.
3. Kast dan Rosenzweig mendefenisikan organisasi adalah sub system teknik, sub system structural, sub system pshikososial dan sub system manajerial dari lingkungan yang lebih luas dimana ada kumpulan orang-orang berorenteasi pada tujuan.
4. Prof. Dr. Sondang P. Siagian mendefinisikan organisasi ialah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja bersama serta secara formal terikat dalam rangka pencapaian suatu tujuan yang telah ditentukan dalam ikatan yang mana terdapat seseorang / beberapa orang yang disebut atasan dan seorang / sekelompok orang yang disebut dengan bawahan.
Jadi, Organisasi adalah wadah bagi sekelompok orang di mana di dalamnya terjadi proses kerja sama dan terdapat pembagian tugas yang jelas pada masing-masing anggota, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
2.1.3 Komunikasi organisasi
Komunikasi organisasi adalah komunikasi antar manusia yang terjadi dalam konteks organisasi, terjadi jaringan pesan satu sama lain yang bergantung satu sama lain.
Menurut Pace & Feules, ada dua perspektif utama yang akan mempengaruhi bagaimana komunikasi organisasi didefinisikan, yaitu (1) perspektif objektif dan (2) perspektif subjektif.
Perspektif objektif menekankan definisi komunikasi organisasi sebagai pertunjukan dan penafsiran pesan diantara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu. Fokusnya adalah penanganan pesan, yakni menerima, menafsirkan, dan bertindak berdasarkan informasi dalam suatu peristiwa komunikasi organisasi. Komunikasi dipandang sebagai alat untuk merekayasa atau mengkonstruksi organisasi yang memungkinkan individu (anggota organisasi) beradaptasi dengan lingkungan organisasi.
Perspektif subjektif mendefinisikan komunikasi organisasi sebagai proses penciptaan makna atas interaksi diantara unit-unit organisasi yang menciptakan, memelihara, dan mengubah organisasi. Fokusnya adalah bagaimana individu anggota organisasi bertransaksi dan kemudian memberi makna terhadap peristiwa komunikasi yang terjadi. Dalam arti lain, bagaimana anggota organisasi berperilaku akan bergantung kepada makna informasi itu bagi mereka.
Dengan demikian, definisi komunikasi organisasi baik dilihat dari perspektif objektif maupun perspektif subjektif adalah sebagai proses penciptaan dan penafsiran informasi diantara unit-unit komunikasi sebagai bagian dari suatu organisasi secara keseluruhan.
Pandangan beberapa ahli lain tentang defenisi komunikasi organisasi, antara lain :
- Devito, mendefenisikan komunikasi organisasi merupakan pengiriman dan penerimaan pesan baik dalam organisasi di dalam kelompok formal maupun kelompok informal organisasi.
- Wiryanto mendefenisikan komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi. Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi. Misalnya: memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan surat-surat resmi. Komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial. Orientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya secara individual.
3. Goldhaber mendefenisikan komunikasi organisasi adalah proses menciptakan dan saling menukar pesan dalam satu jaringan hubungan yang saling tergantung satu sama lain untuk mengatasi lingkungan yang tidak pasti atau yang selalu berubah-ubah. Definisi ini mengandung tujuh konsep kunci yaitu proses, pesan, jaringan, saling tergantung, hubungan, lingkungan, dan ketidakpastian.
- Katz dan Kahn mendefenisikan komunikasi organisasi merupakan arus informasi, pertukaran informasi, dan pemindahan arti di dalam ;suatu organisasi.
2.2 Fungsi Komunikasi dalam Organisasi
Dalam suatu organisasi baik yang berorientasi komersial maupun social, tindak komunikasi dalam organisasi atau lembaga tersebut melibatkan empat fungsi yaitu:
a. Fungsi infomatif
b. Fungsi regulative
c. Fungsi persuasive
d. Fungsi intergratif
2.2.1 Fungsi Informatif
Organisasi dapat dipandang sebagai suatu system pemrosesan informasi (information processing system). Maksudnya, seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik dan tepat waktu. Informasi yang didapat memungkinkan setiap anggota organisasi dapat melaksanakan pekerjaanya secara lebih pasti. Informaasi pada dasarnya di butuhkan oleh semua orang yang mempunyai perbedaan kedudukan dalam suatu suatu organisasi. Orang –orang dalam tataran manajement membutuhkan informasi untuk membuat suatu kebijakan organisasi ataupun guna mengatasi konflik yang terjadi di dalam organisasi. Sedangkan karyawan atau bawahan membutuhkan informasi untuk melaksanakan pekerjaan, di samping itu juga informasi tentang jaminan keamanan, jaminan social dan kesehatan, ijin cuti dan sebagainya.
2.2.2 Fungsi Regulatif
Fungsi regulative ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi. Pada semua lembaga ataupun organisasi, ada dua hal yang berpengaruh terhadap fungsi regulative ini. Pertama, atasan atau orang-orang yang berada dalam tataran manajement yaitu mereka yang memiliki kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yang disampaikan. Di samping itu mereka juga mempunyai kewenangan untuk member intruksi atau perintah, sehingga dalam struktur organisasi kemungkinan mereka ditempatkan pada lapisan atas supaya perintah-perintahnya dilaksanakan sebagaimana mestinya. Kedua, berkaitan dengan pesan atau message. Pesan-pesan regulative pada dasarnya berorientasi pada kerja. Artinya, bawahan membutuhkan kepastian peraturan tentang pekerjaan yang boleh dan tidak boleh untuk dilaksanakan.
2.2.3 Fungsi Persuasif
Dalam mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan. Adanya kenyataan ini, makan banyak pimpinan yang lebih suka untuk mempersuasi bawahannya dari pada memberi perintah. Sebab pekerjaan yang dilakukan secara sukarela oleh karyawan akan menghasilkan kepedulian yang lebih besar di bandingkan kalau pimpinan sering memperlihatkan kekuasaan dan kewenangannya.
2.2.4 Fungsi Integratif
Setiap organisasi berusahan untuk menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat melaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik. Ada dua saluran komunikasi yang dapat mewujudkan hal tersebut, yaitu saluran komunikasi yang dapat mewujudkan hal tersebut, yaitu : saluran komunikasi formal seperti penerbitan khusus dalam organisasi tersebut ( Newslatter, Bulletin) dan laporan kemajuan organisasi, juga saluran komunikasi informal seperti perbincangan antar pribadi selama masa istirahat kerja, pertandingan olahraga ataupun kegiatan darmawisata. Pelaksanaan aktivitas ini akan menumbuhkan keinginan untuk berpartisipasi yang lebih besar dalam diri karyawan terhadap organisasi.
2.3 Saluran Komunikasi Organisasi
Secara umum, komunikasi organisasi dapat dibedakan atas komunikasi formal dan komunikasi informal.
2.3.1 Saluran Komunikasi Formal
Komunikasi formal salurannya ditentukan oleh struktur yang telah direncanakan yang tidak dapat dipungkiri oleh organisasi.
Bila pesan mengalir melalui jalur resmi yang ditentukan oleh hierarki resmi organisasi atau oleh fungsi pekerjaan maka pesan itu berada dalam jalur komunikasi formal. Adapun fungsi penting sistem komunikasi formal menurut Liliweri (1997: 294) adalah sebagai berikut:
1. Komunikasi formal terbentuk sebagai fasilitas untuk mengkoordinir kegiatan, pembagian kerja dalam organisasi.
2. Hubungan formal secara langsung hanya meliputi hubungan antara atasan dengan bawahan. Komunikasi langusng seperti ini memungkinkan dua pihak berpartisipasi umpan balik dengan cepat.
3. Komunikasi formal memungkinkan anggota dapat mengurangi atau menekan waktu yang akan terbuang, atau kejenuhan produksi, mengeliminir ketidaktentuan operasi pekerjaan, termasuk tumpang tindihnya tugas dan fungsi, serta pembaharuan menyeluruh yang berdampak pada efektivitas dan efesiensi.
4. Komunikasi formal menekankan terutama pada dukungan yang penuh dan kuat dari kekuasaan melalui struktur dan hierarkis.
Saluran-saluran komunikasi formal secara umum dirancang untuk mempermudah pertukaran-pertukaran informasi vertikal, horizontal dan diagonal.
2.3.1.1 Aliran Vertikal
Aliran komunikasi vertikal mencakup seluruh transaksi yang meliputi baik aliran informasi ke bawah maupun ke atas yang terjadi antara atasan dan bawahan dalam suatu organisasi.
1. Saluran komunikasi ke Bawah
Komunikasi ke bawah dalam sebuah organisasi berarti bahwa informasi mengalir dari jabatan berotoritas lebih tinggi kepada mereka yang berotoritas lebih rendah. Biasanya kita beranggapan bahwa informasi bergerak dari manajemen kepada para pegawai, namun, dalam organisasi kebanyakan, hubungan ada pada kelompok manajemen (Davis dalam Pace, 1988:184). Kebanyakan komunikasi ke bawah digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan yang berkenaan dengan tugas-tugas dan pemeliharaan. Pesan tersebut biasanya berhubungan dengan pengarahan, tujuan, disiplin, perintah, pertanyaan, dan kebijaksanaan umum. Menurut Lewis (1987) dalam Arni Muhammad (2001:108), komunikasi ke bawah adalah untuk menyampaikan tujuan, untuk merubah sikap, membentuk pendapat, mengurangi ketakutan dan kecurigaan yang timbul karena salah informasi, mencegah kesalahpahaman karena kurang informasi dna mempersiapkan anggota organisasi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan.
Katz dan Kahn mengemukakan bahwa aliran komunikasi ke bawah mempunyai lima tujuan pokok, yaitu :
1. Untuk memberikan pengarahan-pengarahan atau instruksi-instruksi kerja tertentu (spesifik).
2. Untuk memberikan informasi mengapa suatu pekerjaan harus dilaksanakan (Rationale of job).
3. Untuk memberikan informasi tentang prosedur-prosedur dan praktek-praktek organisasional.
4. Untuk memberikan umpan balik pelaksanaan kepada para karyawan (bawahan).
5. Untuk menyajikan informasi mengenai aspek ideologi dalam membantu organisasi menanamkan pengertian tentang tujuan-tujuan yang ingin dicapai.
Komunikasi ke bawah berupa tulisan atau lisan (oral). Contoh komunikasi tertulis adalah memorandum, manual, majalah, surat kabar, bulletin, dan penyebaran informasi. Beberapa contoh komunikasi lisan yang mengalir ke bawah termasuk media pengarahan verbal / lisan, percakapan, konfrensi, dan kontak telepon.
Secara lebih terperinci, aliran komunikasi vertikal ke bawah mungkin terbentuk :
· Rantai perintah; · Plakat dan papan pengumuman; · Majalah perusahaan; · Surat pada karyawan; · Buku petunjuk karyawan; · Kotak informasi; · Sistem pengeras suara; | · Secarik kertas tanda terima gaji; · Desas-desus; · Laporan tahunan; · Pertemuan kelompok; · Serikat kerja; · Desas-desus. |
2. Komunikasi ke atas
Komunikasi ke atas dalam sebuah organisasi berarti bahwa informasi mengalir dari tingkat yang lebih rendah (bawahan) ke tingkat yang lebih tinggi. Gerakan informasi ke atas (upward) melalui tingkatan-tingkatan kerja dan secara mendasar dihubungkan dengan fungsi pengawasan. Semua anggota dalam sebuah organisasi, kecuali mereka yang menduduki posisi puncak, mungkin berkomunikasi ke atas, yakni setiap bawahan dapat mempunyai alasan yang baik atau meminta informasi kepada seseorang yang otoritasnya lebih tinggi daripada dia. Suatu permohonan atau komentar yang diarahkan kepada individu yang otoritasnya lebih besar, lebih tinggi, atau lebih luas merupakan esensi komunikasi ke atas.
Menurut Pace & Faules (2001:190) komunikasi ke atas penting karena beberapa alasan:
1. Aliran informasi ke atas memberi informasi berharga untuk pembuatan keputusan oleh mereka yang mengarahkan organisasi dan mengawasi kegiatan orang-orang lainnya.
2. Komunikasi ke atas memberitahukan kepada penyelia kapan bawahan mereka siap menerima informasi dari mereka dan seberapa bail bawahan menerima apa yang dikatakan kepada mereka.
3. Komunikasi ke atas memungkinkan –bahkan mendorong- omelan dan keluh kesah muncul ke permukaan sehingga penyelia tahu apa yang mengganggu mereka yang paling dekat dengan operasi-operasi sebenarnya.
4. Komunikasi ke atas mengizinkan penyelia untuk menentukan apakah bawahan memahami apa yang diharapkan dari aliran informasi ke bawah.
5. Komunikasi ke atas membantu pegawai mengatasi masalah pekerjaan mereka dan memperkuat keterlibatan mereka dengan pekerjaan mereka dan dengan organisasi tersebut.
Secara lebih terperinci aliran komunikasi vertikal ke atas mungkin terbentuk :
· Kotak tatap muka;
· Pertemuan kelompok;
· Prosedur pengaduan;
· Sistem kelah;
· Daftar pertanyaan tentang semangat kerja;
· Surat usulan;
· Pemberian saran;
· Wawancara;
· Kebijaksanaan pintu terbuka (open-door policy);
· Serikat kerja;