Senin, 05 Desember 2011

KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT-UNHALU

BAB I
PENDAHULUAN
 1.1 Latar Belakang Masalah
Manusia adalah mahluk sosial yang berkomunikasi dan berintekrasi dengan masyarakat dan lingkungan sekitarnya, baik itu lingkungan tempat tinggal maupun lingkungan kerja. Manusia sebagai mahluk sosial di dalam memenuhi kebutuhan yang merupakan bagian dari tujuan hidupnya adalah dengan cara bekerja. Menurut Panji Anggoro dan Wiwik Widiyanti (1990:31) kerja adalah aktivitas dasar dan dijadikan bagian essential dari kehidupan manusia dan memberikan status mengikat seorang individu lain serta masyarakat kerja merupakan aktivitas sosial yang memberikan isi dan makna pada kehidupan.
Orang-orang memasuki organisasi tentunya sesuai dengan keinginannya untuk mencapai cita-cita yang tidak dapat dicapainya secara sendiri. Untuk itu, diperlukan peranan komunikasi organisasi dalam mempermudah individu berkomunikasi dan berintekrasi dengan individu lain untuk memperoleh informasi
yang dibutuhkan. Melalui komunikasi terjadi pertukaran informasi, gagasan, dan
pengalaman.
Komunikasi organisasi merupakan suatu proses dinamik yang berfungsi sebagai alat utama bagi sukses atau tidaknya organisasi dalam hubungannya dengan
lingkungan tugas. Pincus (1986) menemukan komunikasi berhubungan positif dengan kinerja, tetapi tidak sekuat hubungan antara komunikasi dengan kepuasan. Chen et al., (2006) menyatakan komunikasi organisasi berhubungan positif dengan komitmen organisasi dan kinerja dan berhubungan negatif dengan tekanan pekerjaan. Namun demikian Rodwell (1998) menyatakan bahwa variabel komunikasi berhubungan negatif dengan kinerja.
Komunikasi adalah usaha mendorong orang lain menginterprestasikan pendapat seperti apa yang dikehendaki oleh orang yang mempunyai pendapat tersebut. Dengan komunikasi diperoleh titik kesamaan saling pengertian. Kemungkinan salah pengeertian dengan demikian dapat dihindari, karena tidak adanya atau kurang sempurnanya penrimaan mereka yang dihubungi dapat dicegah. Walupun komunikasi sempurna jarang ada, tetapi orang perlu berusaha sedapat mungkin melakukan hal itu. Andai kata tidak, dia tentu tidak akan berhasil menjalankan fungsinya, apalgi sebagai manajer yang memimpin. Seperti diketahui memimpin itu mengusahakan melalui orang lain agar segala sesuatu itu terlaksana seperti diharapkan. Kegiatan ini memerlukan komunikasi; tentu saja komunikasi yang baik dan tepat. Orang harus dapat mengirimkan berita yang jelas  dan dimengerti oleh orang lain. Selanjutnya berita tersebut diterima dengan baik dan diikuti untuk dilaksanakan oleh orang lain. Ini selanjutnya menimbulkan sikap dan moral berorganisasi yang baik. Akhirnya orang  akan dapat mempengaruhi orang lain secara otomatis dan proses berorganisasi berjalan dengan sendirinya.
Komunikasi memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, baik secara individu, kelompok, maupun dalam organisasi. Komunikasi dalam organisasi memiliki kompleksitas yang tinggi, yaitu bagaimana menyampaikan informasi dan menerima informasi merupakan hal yang tidak mudah, dan menjadi tantangan dalam proses komunikasinya. Dalam komunikasi organisasi, aliran informasi merupakan proses yang rumit, karena melibatkan seluruh bagian yang ada dalam organisasi. Informasi tidak hanya mengalir dari atas ke bawah, tetapi juga sebaliknya dari bawah ke atas dan juga mengalir diantara sesama anggotanya.
Untuk membentuk kerjasama yang baik antara organisasi dan para anggota, maka dibutuhkan bentuk hubungan serta komunikasi yang baik antara para anggota organisasi. Hubungan komunikasi yang terjadi dalam organisasi itu disebut dengan pola komunikasi dalam struktur organisasi. Pola komunikasi dalam struktur organisasi merupakan bentuk interaksi pertukaran pesan antar anggota organisasi, baik komunikasi secara verbal maupun non verbal. Organisasi tidak mungkin berada tanpa komunikasi.
Menurut McNamara, keterampilan mengelola rapat merupakan perjalanan
menuju komunikasi yang efektif yang merupakan salah satu prinsip-prinsip pokok
komunikasi informal organisasi. Pertemuan-pertemuan dianas yang melibatkan pada staff dan pegawai, baik itu yang diselenggarakan di markas besar maupun di kantor-kantor cabang, dan juga konfrensi tingkat nasional, merupakan acara berkumpul yang bermanfaat untuk menggalang kebersamaan dan keakraban, sekaligus untuk menciptakan hubungan yang baik antara pihak manajemen dengan para pegawai. Dalam acara-acara tersebut, berlangsung suatu bentuk pola komunikasi organisasi yang paling efisien, yakni komunikasi tatap muka.
Salah satu bentuk aktivitas komunikasi yang dapat mempertemukan antara
karyawan dengan atasannya adalah kegiatan regular meeting yang dilakukan oleh
organisasi. Kegiatan regular meeting adalah salah satu bentuk dari aktivitas pola komunikasi organisasi yang dilakukan perusahaan untuk membentuk iklim komunikasi yang positif dengan memelihara hubungan yang harmonis antara perusahaan atau pihak manajemen dengan para karyawannya.
Pelaksanaan regular meeting dalam suatu organisasi merupakan sarana teknis atau suatu kegiatan metode komunikasi yang memiliki kekuatan mengelola sumber daya manusia dan lain sebagainya demi pencapaian tujuan organisasi. Kemudian, pada akhirnya hal tersebut bermuara pada peningkatan produktivitas perusahaan baik dilihat secara kuantitas maupun kualitas, bentuk produk-produk barang atau pemberian jasa yang ditawarkan kepada publik sasarannya (konsumen dan customer).
1.2  Tujuan
Adapun tujuan yang akan dicapai dalam penulisan mkalah ini adalah untuk mengetahui konsep dari komunikasi organisasional.
1.3  Manfaat
Adapun manfaat penulisan makalah ini adalah :
1. Secara teoritis, diharapkan dapat memperluas pengetahuan penulis mengenai kajian komunikasi organisasi.
2. Secara akademis, diharapkan dapat memberi kontribusi akademis tentang komunikasi organisasi untuk mata kuliah OMPE.
3. Untuk menambah ketrampilan dan khasanah berpikir mahasiswa.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Pengertian, Komunikasi Organisasi dan Komunikasi Organisasi
2.1.1 Komunikasi
Secara harfiah, Komunikasi atau communication berasal dari bahasa latin, yaitu communicates yang berarti berbagi atau menjadi milik bersama. Komunikasi menurut ahli kamus bahasa menunjuk pada suatu upaya yang bertujuan berbagi untuk mencapai kebersamaan.
Beberapa ahli mengemukakan defenisi komunikasi sebagai berikut :
1.     Sarah Trenholm dan Arthur Jensen ( 1996 : 4 ), komunikasi adalah suatu proses di mana sumber mentrasmisikan pesan kepada penerima melalui beragam saluran,
2.     Everett . Rogers  dan Lawrence Kincaid ( 1981 : 18 ) menyatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses di mana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi antar satu sama lain, yang pada gilirannya terjadi saling pengertian mendalam.
3.     Berelson dan Steiner ( 1964 ), komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian dan lain-lain. Melalui penggunaan simbol- simbol  seperti kata-kata, gambar-gambar, angka-angka dan lain- lain.
4.     Everett M. Rogers mendefenisikan komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih, dengan maksud
untuk merubah tingkah laku mereka (Cangara, 2000:19).
Jadi komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi atau gagasan kepada orang lain tentang suatu hal agar dapat di mengerti oleh si penerima informasi dan mampu memberikan pengertian yang mendalam, melalui kata-kata, simbol-simbol, gambar-gambar, angka-angka dan lain-lain.
2.1.2  Organisasi
Salah satu hal penting dalam hal memahami komunikasi organisasi adalah kita harus memahami pendekatan-pendekatan cara berpikir dan cara pandang tentang organisasi. Istilah organisasi berasal dari bahasa Latin organizare, yang secara harafiah berarti paduan dari bagian-bagian yang satu sama lainnya saling bergantung. Di antara para ahli ada yang menyebut paduan itu sistem, ada juga yang menamakannya sarana.
Beberapa ahli mengemukakan defenisi organisasi sebagi berikut :
1.     Ernest Dale mendefenisikan organisasi adalah suatu proses perencanaan yang meliputi penyusunan, pengembangan, dan pemeliharaan suatu  struktur atau pola hubunngan kerja dari orang-orang dalam suatu kerja kelompok.
2.     Cyril Soffer mendefenisikan organisasi adalah perserikatan orang-orang yang masing-masing diberi peran tertentu dalam suatu system kerja dan pembagian dalam mana pekerjaan itu diperinci menjadi tugas-tugas, dibagikan kemudian digabung lagi dalam beberapa bentuk hasil.
3.     Kast dan Rosenzweig mendefenisikan organisasi adalah sub system teknik, sub system structural, sub system pshikososial dan sub system manajerial dari lingkungan yang lebih luas dimana ada kumpulan orang-orang berorenteasi pada tujuan.
4.     Prof. Dr. Sondang P. Siagian mendefinisikan organisasi ialah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja bersama serta secara formal terikat dalam rangka pencapaian suatu tujuan yang telah ditentukan dalam ikatan yang mana terdapat seseorang / beberapa orang yang disebut atasan dan seorang / sekelompok orang yang disebut dengan bawahan.
Jadi, Organisasi adalah wadah bagi sekelompok orang di mana di dalamnya  terjadi proses kerja sama dan terdapat pembagian tugas yang jelas pada masing-masing anggota, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
2.1.3  Komunikasi organisasi
Komunikasi organisasi adalah komunikasi antar manusia yang terjadi dalam konteks organisasi, terjadi jaringan pesan satu sama lain yang bergantung satu sama lain.
Menurut Pace & Feules, ada dua perspektif utama yang akan mempengaruhi bagaimana komunikasi organisasi didefinisikan, yaitu (1) perspektif objektif dan (2) perspektif subjektif.  
Perspektif objektif menekankan definisi komunikasi organisasi sebagai pertunjukan dan penafsiran pesan diantara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu. Fokusnya adalah penanganan pesan, yakni menerima, menafsirkan, dan bertindak berdasarkan informasi dalam suatu peristiwa komunikasi organisasi. Komunikasi dipandang sebagai alat untuk merekayasa atau mengkonstruksi organisasi yang memungkinkan individu (anggota organisasi) beradaptasi dengan lingkungan organisasi.
Perspektif subjektif mendefinisikan komunikasi organisasi sebagai proses penciptaan makna atas interaksi diantara unit-unit organisasi yang menciptakan, memelihara, dan mengubah organisasi. Fokusnya adalah bagaimana individu anggota organisasi bertransaksi dan kemudian memberi makna terhadap peristiwa komunikasi yang terjadi. Dalam arti lain, bagaimana anggota organisasi berperilaku akan bergantung kepada makna informasi itu bagi mereka.
Dengan demikian, definisi komunikasi organisasi baik dilihat dari perspektif objektif maupun perspektif subjektif adalah sebagai proses penciptaan dan penafsiran informasi diantara unit-unit komunikasi sebagai bagian dari suatu organisasi secara keseluruhan.
Pandangan beberapa ahli lain tentang defenisi komunikasi organisasi, antara lain :
  1. Devito, mendefenisikan  komunikasi organisasi merupakan pengiriman dan penerimaan pesan baik dalam organisasi di dalam kelompok formal maupun kelompok informal organisasi.
  2. Wiryanto mendefenisikan komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi. Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi. Misalnya: memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan surat-surat resmi. Komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial. Orientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya secara individual.
3.     Goldhaber mendefenisikan  komunikasi organisasi adalah proses menciptakan dan saling menukar pesan dalam satu jaringan hubungan yang saling tergantung satu sama lain untuk mengatasi lingkungan yang tidak pasti atau yang selalu berubah-ubah. Definisi ini mengandung tujuh konsep kunci yaitu proses, pesan, jaringan, saling tergantung, hubungan, lingkungan, dan ketidakpastian.
  1. Katz dan Kahn mendefenisikan komunikasi organisasi merupakan arus informasi, pertukaran informasi, dan pemindahan arti di dalam ;suatu organisasi.
2.2 Fungsi Komunikasi dalam Organisasi
Dalam suatu organisasi baik yang berorientasi komersial maupun social, tindak komunikasi dalam organisasi  atau lembaga tersebut melibatkan empat fungsi yaitu:
a.      Fungsi infomatif
b.     Fungsi regulative
c.      Fungsi persuasive
d.     Fungsi intergratif
2.2.1 Fungsi Informatif
Organisasi dapat dipandang sebagai suatu system pemrosesan informasi (information processing system). Maksudnya, seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh  informasi  yang lebih banyak, lebih baik dan tepat waktu. Informasi yang didapat  memungkinkan setiap anggota organisasi dapat melaksanakan pekerjaanya secara  lebih pasti. Informaasi pada dasarnya di butuhkan  oleh semua orang  yang mempunyai perbedaan kedudukan  dalam suatu  suatu organisasi. Orang –orang  dalam tataran  manajement membutuhkan  informasi untuk  membuat suatu kebijakan organisasi  ataupun guna mengatasi  konflik yang terjadi  di dalam organisasi. Sedangkan  karyawan atau bawahan membutuhkan  informasi untuk melaksanakan pekerjaan, di samping itu juga informasi tentang  jaminan keamanan, jaminan social dan kesehatan, ijin cuti dan sebagainya.
2.2.2  Fungsi Regulatif
Fungsi regulative ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku  dalam suatu organisasi.  Pada semua lembaga ataupun organisasi,  ada dua hal yang berpengaruh  terhadap fungsi regulative ini. Pertama, atasan atau orang-orang yang berada  dalam tataran manajement yaitu mereka yang memiliki  kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yang disampaikan.  Di samping itu mereka juga mempunyai kewenangan  untuk  member intruksi atau perintah, sehingga dalam struktur organisasi  kemungkinan mereka ditempatkan pada lapisan atas supaya perintah-perintahnya dilaksanakan sebagaimana mestinya. Kedua, berkaitan  dengan pesan atau message. Pesan-pesan  regulative  pada dasarnya berorientasi  pada kerja. Artinya, bawahan membutuhkan kepastian  peraturan tentang pekerjaan yang boleh dan tidak boleh untuk dilaksanakan.
2.2.3 Fungsi Persuasif
Dalam mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan. Adanya kenyataan ini, makan banyak pimpinan yang lebih suka untuk mempersuasi bawahannya  dari pada memberi perintah. Sebab pekerjaan yang dilakukan  secara sukarela oleh karyawan  akan menghasilkan  kepedulian yang lebih besar di bandingkan kalau pimpinan sering memperlihatkan kekuasaan  dan kewenangannya.
2.2.4 Fungsi Integratif
Setiap organisasi berusahan untuk menyediakan  saluran yang memungkinkan karyawan  dapat melaksanakan tugas dan pekerjaan  dengan baik. Ada dua saluran  komunikasi yang dapat mewujudkan  hal tersebut,  yaitu saluran komunikasi  yang  dapat mewujudkan  hal tersebut, yaitu : saluran komunikasi formal seperti  penerbitan khusus dalam organisasi tersebut ( Newslatter, Bulletin)  dan laporan  kemajuan organisasi, juga saluran komunikasi informal seperti perbincangan  antar pribadi  selama masa istirahat kerja, pertandingan olahraga ataupun kegiatan darmawisata. Pelaksanaan  aktivitas ini akan menumbuhkan keinginan  untuk berpartisipasi  yang lebih besar dalam diri karyawan terhadap organisasi.
2.3 Saluran Komunikasi Organisasi
Secara umum, komunikasi organisasi dapat dibedakan atas komunikasi formal dan komunikasi informal.  
2.3.1 Saluran Komunikasi Formal
Komunikasi formal salurannya ditentukan oleh struktur yang telah direncanakan yang tidak dapat dipungkiri oleh organisasi.
Bila pesan mengalir melalui jalur resmi yang ditentukan oleh hierarki resmi organisasi atau oleh fungsi pekerjaan maka pesan itu berada dalam jalur komunikasi formal.  Adapun fungsi penting sistem komunikasi formal menurut Liliweri (1997: 294) adalah sebagai berikut:
1.  Komunikasi formal terbentuk sebagai fasilitas untuk mengkoordinir kegiatan, pembagian kerja dalam organisasi.
2.   Hubungan formal secara langsung hanya meliputi hubungan antara atasan dengan bawahan.  Komunikasi langusng seperti ini memungkinkan dua pihak berpartisipasi umpan balik dengan cepat.
3.  Komunikasi formal memungkinkan anggota dapat mengurangi atau menekan waktu yang akan terbuang, atau kejenuhan produksi, mengeliminir ketidaktentuan operasi pekerjaan, termasuk tumpang tindihnya tugas dan fungsi, serta pembaharuan menyeluruh yang berdampak pada efektivitas dan efesiensi.
4.  Komunikasi formal menekankan terutama pada dukungan yang penuh dan kuat dari kekuasaan melalui struktur dan hierarkis.
Saluran-saluran komunikasi formal secara umum dirancang untuk mempermudah pertukaran-pertukaran informasi vertikal, horizontal dan diagonal.

2.3.1.1 Aliran Vertikal

Aliran komunikasi vertikal mencakup seluruh transaksi yang meliputi baik aliran informasi ke bawah maupun ke atas yang terjadi antara atasan dan bawahan dalam suatu organisasi.
1.     Saluran komunikasi ke Bawah
Komunikasi ke bawah dalam sebuah organisasi berarti bahwa informasi mengalir dari jabatan berotoritas lebih tinggi kepada mereka yang berotoritas lebih rendah.  Biasanya kita beranggapan bahwa informasi bergerak dari manajemen kepada para pegawai, namun, dalam organisasi kebanyakan, hubungan ada pada kelompok manajemen (Davis dalam Pace, 1988:184). Kebanyakan komunikasi ke bawah digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan yang berkenaan dengan tugas-tugas dan pemeliharaan.  Pesan tersebut biasanya berhubungan dengan pengarahan, tujuan, disiplin, perintah, pertanyaan, dan kebijaksanaan umum.  Menurut Lewis (1987) dalam Arni Muhammad (2001:108), komunikasi ke bawah adalah untuk menyampaikan tujuan, untuk merubah sikap, membentuk pendapat, mengurangi ketakutan dan kecurigaan yang timbul karena salah informasi, mencegah kesalahpahaman karena kurang informasi dna mempersiapkan anggota organisasi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan. 
Katz dan Kahn mengemukakan bahwa aliran komunikasi ke bawah mempunyai lima tujuan pokok, yaitu :
1.        Untuk memberikan pengarahan-pengarahan atau instruksi-instruksi kerja tertentu (spesifik).
2.        Untuk memberikan informasi mengapa suatu pekerjaan harus dilaksanakan (Rationale of job).
3.        Untuk memberikan informasi tentang prosedur-prosedur dan praktek-praktek organisasional.
4.        Untuk memberikan umpan balik pelaksanaan kepada para karyawan (bawahan).
5.        Untuk menyajikan informasi mengenai aspek ideologi dalam membantu organisasi menanamkan pengertian tentang tujuan-tujuan yang ingin dicapai.
            Komunikasi ke bawah berupa tulisan atau lisan (oral). Contoh komunikasi tertulis adalah memorandum, manual, majalah, surat kabar, bulletin, dan penyebaran informasi. Beberapa contoh komunikasi lisan yang mengalir ke bawah termasuk media pengarahan verbal / lisan, percakapan, konfrensi, dan kontak telepon.
Secara lebih terperinci, aliran komunikasi vertikal ke bawah mungkin terbentuk :
·       Rantai perintah;
·       Plakat dan papan pengumuman;
·       Majalah perusahaan;
·       Surat pada karyawan;
·       Buku petunjuk karyawan;
·       Kotak informasi;
·       Sistem pengeras suara;
·       Secarik kertas tanda terima gaji;
·       Desas-desus;
·       Laporan tahunan;
·       Pertemuan kelompok;
·       Serikat kerja;
·       Desas-desus.

2.     Komunikasi ke atas
Komunikasi ke atas dalam sebuah organisasi berarti bahwa informasi mengalir dari tingkat yang lebih rendah  (bawahan) ke tingkat yang lebih tinggi. Gerakan informasi ke atas (upward) melalui tingkatan-tingkatan kerja dan secara mendasar dihubungkan dengan fungsi pengawasan.   Semua anggota dalam sebuah organisasi, kecuali mereka yang menduduki posisi  puncak, mungkin berkomunikasi ke atas, yakni setiap bawahan dapat mempunyai alasan yang baik atau meminta informasi kepada seseorang yang otoritasnya lebih tinggi daripada dia.  Suatu permohonan atau komentar yang diarahkan kepada individu yang otoritasnya lebih besar, lebih tinggi, atau lebih luas merupakan esensi komunikasi ke atas.
Menurut Pace & Faules (2001:190) komunikasi ke atas penting karena beberapa alasan:
1.      Aliran informasi ke atas memberi informasi berharga untuk pembuatan keputusan oleh mereka yang mengarahkan organisasi  dan mengawasi kegiatan orang-orang lainnya.
2.   Komunikasi ke atas memberitahukan kepada penyelia kapan bawahan mereka siap menerima informasi dari mereka dan seberapa bail bawahan menerima apa yang dikatakan kepada mereka.
3.   Komunikasi ke atas memungkinkan –bahkan mendorong- omelan dan keluh kesah muncul ke permukaan sehingga penyelia  tahu apa yang mengganggu mereka yang paling dekat dengan operasi-operasi sebenarnya.
4.   Komunikasi ke atas mengizinkan penyelia untuk menentukan apakah bawahan memahami apa yang diharapkan dari aliran informasi ke bawah.
5.   Komunikasi ke atas membantu pegawai mengatasi masalah pekerjaan mereka dan memperkuat keterlibatan mereka dengan pekerjaan mereka dan dengan organisasi tersebut. 
Secara lebih terperinci aliran komunikasi vertikal ke atas mungkin terbentuk :
·       Kotak tatap muka;
·       Pertemuan kelompok;
·       Prosedur pengaduan;
·       Sistem kelah;
·       Daftar pertanyaan tentang semangat kerja;
·       Surat usulan;
·       Pemberian saran;
·       Wawancara;
·       Kebijaksanaan pintu terbuka (open-door policy);
·       Serikat kerja;

Sabtu, 03 Desember 2011

INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT( ISPA)

Penyakit ISPA merupakan suatu penyakit infeksi saluran pernapasan akut yang mengandung tiga unsur, yaitu infeksi, saluran pernapasan dan akut (Anonim, diakses pada tanggal 2 desember 2008)
 ISPA adalah Infeksi Saluran Pernapasan akut yang datang secara mendadak, yang singkat serta gawat. Penyakit ISPA dapat menjadi Pneumonia atau sering di sebut radang paru-paru yaitu penyakit batuk yang di tandai dengan napas cepat atau sesak napas. ISPA sering disalah artikan sebagai Infeksi Saluran pernapasan Atas. Sementara singkatannya merupakan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut.
 ISPA merupakan penyakit infeksi saluran nafas yang secara anatomi dibedakan atas saluran nafas atas mulai dari hidung sampai dengan taring dan saluran nafas bawah mulai dari laring sampai dengan alveoli beserta adnexanya, akibat invasi infecting agents yang mengakibatkan reaksi inflamasi saluran nafas yang terlibat. Hingga saat ini telah dikenal lebih dari 300 jenis bakteri dan virus sebagai penyebab ISPA (Levi Silalahi, 2004).
ISPA merupakan singkatan dari infeksi saluran pernafasan akut, istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI). Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernafasan dan akut, dengan pengertian sebagai berikut :
a.   Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisma ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
b.   Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. ISPA secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran pernafasan. Dengan batasan ini, jaringan paru termasuk dalam saluran pernafasan (respiratory tract)
c.   Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari (Levi Silalahi, 2004)
            ISPA adalah radang akut saluran pernapasan atas maupun bawah yang di sebabkan oleh infeksi jasad renik atau bakteri, virus, tanpa atau disertai radang parenkin paru. Selain itu juga ISPA merupakan kelompok penyakit sebagai penyebab absensi tertinggi bila dibandingkan dengan kelompok penyakit lain. 
Etiologi Penyakit ISPA
            Penyebab ISPA beranekaragam namun penyebab terbanyak adalah infeksi virus dan bakteri. Penyebab infeksi ini dapat sendirian atau bersama-sama secara simultan. Penyebab ISPA akibat infeksi virus berkisar 90-95% terutama ISPA Atas. ISPA terdiri dari lebih 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri penyebeb ISPA antara lain dari genus Streptokokus, Stafilokokus, Pnemokokus, Hemofillus, Bordetella dan Korinobakterium. Virus penyebeb ISPA antara lain adalah golongan Mikosovirus, Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus.
            ISPA bagian atas umumnya disebabkan oleh virus, sedangkan ISPA bagian bawah dapat disebabkan oleh bakteri dan virus. ISPA bagian bawah yang disebabkan oleh bakteri umumnya mempunyai manifestasi klinis yang berat sehingga menimbulkan beberapa masalah dalam penanganannya. Sementara itu faktor lain terjadinya ISPA antara lain BBLR (Berat badan lahir ringan), malnutrisi, polusi udara dalam ruangan, tidak mendapatkan ASI penuh, padat hunian, imunisasi tidak lengkap dan defesiensi vitamin A.
Penyakit ISPA dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko berikut :
a.       Faktor yang berkaitan dengan daya tahan tubuh (host) seperti umur, Jenis kelamin, status gizi, imunisasi, dan asupan vitamin A.
b.       Faktor Lingkungan seperti perumahan (ventilas, lantai, dan kamarisasi),  kepadatan hunian, kebiasaan merokok, pendidikan Ibu, dan sosial ekonomi.
c.       Agent seperti bakteri, virus dan jamur (Muluki M, 2003)
Klasifikasi ISPA
ISPA terdiri dari sekelompok klinik dengan etiologi dan perjalanan klinik yang berbeda. Berikut ini klasifikasi dari ISPA.
1.       Klasifikasi menurut Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi ISPA sebagai berikut:
a.      Pneumonia berat : ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada kedalam (chest indrawing).
b.     Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat.
c.      Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai demam, tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat. Rinofaringitis, faringitis dan tonsilitis tergolong bukan pneumonia.
            Berdasarkan hasil pemeriksaan dapat dibuat suatu klasifikasi penyakit ISPA. Klasifikasi ini dibedakan untuk golongan umur dibawah 2 bulan dan untuk golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun.
Untuk golongan umur kurang 2 bulan ada 2 klasifikasi penyakit yaitu :
a.      Pneumonia berat : ditandai dengan batas napas cepat untuk golongan umur kurang 2 bulan yaitu 60 kali per menit atau lebih.
b.     Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tanda tarikan kuat dinding dada bagian bawah atau napas cepat.
            Untuk golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun ada tiga klasifikasi penyakit
yaitu :
a.      Pneumonia berat: bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan dinding dada bagian bawah kedalam pada waktu anak menarik napas (pada saat diperiksa anak harus dalam keadaan tenang tldak menangis atau meronta).
b.     Pneumonia: bila disertai napas cepat. Batas napas cepat ialah untuk usia 2 -12 bulan adalah 50 kali per menit atau lebih dan untuk usia 1 -4 tahun adalah 40 kali per menit atau lebih.
c.      Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada napas cepat (Lembang, 2003).
2.       Klasifikasi berdasarkan lokasi anatomik
a.        ISPA bagian atas adalah infeksi akut menyerang hidung sampai epiglotis, misalnya:
1)  Tonsilitis, penyakit ini ditandai rasa sakit pada saat menelan diikuti dengan demam dan kelemahan tubuh, dapat disebabkan oleh virus dan bakteri.
2)  Common cold  adalah infeksi primer di nasofaring dan hidung yang sering dijumpai pada balita yang disertai demam tinggi.
3)  Sinusitus akut merupakan radang pada sinus, beringus, sakit kepala, demam,  malaise dan nausea.
4)  Pharingitis yaitu peradangan pada mukosa pharing dengan gejala demam disertai menggigil, rasa sakit pada tenggorokan, sakit kepala, sakit saat menelan dan lain-lain.
b.        ISPA bagian bawah adalah infeksi saluran pernapasan dari epiglotis sampai alveoli paru, misalnya:
1)  Bronchitis akut adalah demam yang disertai batuk-batuk, sesak napas, dahaknya sulit keluar karena menjadi lengket, ditemukan adanya ronki basah dan wheezing.
2)  Pneomonia adalah radang paru-paru disertai eksudasi dan konsolodasi, panyakit penyakit ini muncul karena akut dengan demam, penderita pucat, batuk-batuk dan pernapasan menjadi cepat.
3)  Bronkopnemonia adalah peradangan paru-paru, biasanya dimulai di bronkioli terminal, gejalanya adalah demam, sesak napas, batuk dengan dahak yang kuning kehijauan dan biasanya berupa serangan yang datangnya secara tiba-tiba.
4)  Tubercolosis paru adalah penyakit yang disebabkan M. Tuberculosis, gejalanya batuk biasanya disertai darah, panas, nyeri dada, kurus akibat kurang nafsu makan.
3.       Kalisifikasi berdasarkan derajat keparahan penyakit
a.      ISPA ringan, penatalaksaan cukup dengan tindakan penunjang tanpa pengobatan anti mikroba. Tanda dan gejalanya: batuk, pilek, sesak dengan ataupun tanpa napas, keluarnya cairan dari telinga yang lebih dari 2 minggu tanpa rasa sakit di telinga.
b.     ISPA sedang, penatalaksanaannya memerlukan pengobatan anti mikroba, tetapi tidak perlu dirawat. Tanda dan gejalanya: pernapasan cepat (lebih dari 50 kali permenit), wheezing, napas menciut-ciut dan panas.
c.      ISPA berat, kasus ISPA yang perlu pananganan langsung oleh tenaga madis atau tenaga kesehatan. Tanda dan gejalanya: penarikan dada ke dalam pada saat penarikan napas, pernasan ngorok, tak mau makan, kulit kebiru-biruan, dehidrasi, kesadaran menurun.
            Perlu diingat, bahwa sebenarnya tidak semua batuk, pilek dan panas disebabkan oleh kuman penyakit, tetapi dapat juga disebabkan karena seseorang tidak tahan terhadap sesuatu, misalnya makanan tertentu, udara dingin, debu, dan sebagainya. Namun penyebab yang paling umum adalah kuman penyakit.          ISPA dapat menyerang anak-anak dan orang dewasa. Tetapi bagi kita sangat penting memperhatikan ISPA pada anak-anak, karena penyakit ini merupakan salah satu penyebab penting kematian pada anak-anak, terutama pada bayi dan anak-anak di bawah umur lima tahun (Balita).
 Tanda-tanda terserang ISPA
Menurut berat ringannya penyakit, ISPA dibagi menjadi tiga golongan yaitu:
a.   Tanda-tanda ISPA ringan, jika ditemukan salah satu atau tebih dari tanda-tanda berikut:
1.       Batuk
2.       Serak : anak bersuara parau saat mengeluarkan suara (saat berbicara atau menangis).
3.       Pilek : mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung.
4.       Panas(demam): suhu badan lebih dari 37 0 atau jika dahi anak diraba dengan punggung tangan panas terasa panas.    
b.   Tanda-tanda ISPA Sedang, jika dijumpai tanda-tanda ISPA ringan disertai satu atau lebih tanda-tanda berikut:
Pernafasan lebih dari 50x per menit pada anak yang berumur kurang dari satu tahun, atau lebih dari 40x per menit pada anak yang berumur satu tahun atau lebih. Cara menghitung pernafasan adalah dengan menghitung jumlah tarikan nafas dalam satu menit. Untuk ini maka diperlukan arloji. Suhu lebih dari 39oC (diukur dengan alat pengukur suhu badan/termometer). Tenggorokan berwarna merah. Timbul bercak-bercak pada kulit menyerupai bercak campak. Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga. Pernafasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur). Pernafasan berbunyi menciut-ciut (Makmur, 2004).
Dari tanda-tanda ISPA perlu berhati-hati karena jika anak menderita ISPA ringan, tetapi penderita mengalami: Panas badannya lebih dari 390C atau gizinya kurang, atau umurnya 4 bulan atau  kurang, maka anak tersebut menderita ISPA sedang dan harus mendapat pertolongan dari pertugas kesehatan (perawat, bidan).
c.   Tanda-tanda ISPA Berat, jika dijumpai tanda-tanda ISPA ringan atau ISPA sedang disertai satu atau lebih tanda-tanda berikut:
1.       Bibir atau kulit biru.
2.       Lubang hidung kembang kempis (dengan cukup lebar) pada waktu bernafas.
3.       Anak tidak sadar atau kesadarannya menurun.
4.       Pernafasan berbunyi bercuit-ciut, dan anak tampak gelisah.
5.       Sela iga tertarik kedalam pada waktu bernafas.
6.       Nadi cepat lebih dari 160x permenit atau tak teraba.    
7.       Tenggorokan berwarna merah.  
Tanda-tanda klinis
Ø  Pada sistem pernafasan adalah: napas tak teratur dan cepat, retraksi/ tertariknya kulit kedalam dinding dada, napas cuping hidung/napas dimana hidungnya tidak lobang, sesak kebiruan, suara napas lemah atau hilang, suara nafas seperti ada cairannya sehingga terdengar keras
Ø  Pada sistem peredaran darah dan jantung : denyut jantung cepat atau lemah, hipertensi, hipotensi dan gagal jantung.
Ø  Pada sistem Syaraf adalah : gelisah, mudah terangsang, sakit kepala, bingung, kejang dan coma.
Ø  Pada hal umum adalah : letih dan berkeringat banyak.
Tanda-tanda pada anak:            
Ø  Tanda-tanda bahaya pada anak golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun adalah: tidak bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor dan gizi buruk.
Ø  Tanda bahaya pada anak golongan umur kurang dari 2 bulan adalah: kurang bisa minum (kemampuan minumnya menurun sampai kurang dari setengah volume yang biasa diminumnya), kejang, kesadaran menurun, mendengkur, mengi, demam dan dingin
            Penderita ISPA berat harus dirawat di rumah sakit atau Puskesmas, karena perlu mendapat perawatan dengan peralatan khusus seperti oksigen dan/cairan infus.
Cara Penularan ISPA                       
ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernapasannya. Infeksi saluran pernapasan bagian atas terutama yang disebabkan oleh virus, sering terjadi pada semua golongan masyarakat pada bulan-bulan musim dingin.
            ISPA bermula pada saat mikriorganisme atau atau zat asing seperti tetesan cairan yang dihirup, memasuki paru dan menimbulkan radang. Bila penyebabnya virus atau bakteri, cairan digunakan oleh organisme penyerang untuk media perkembangan. Bila penyebabnya zat asing, cairan memberi tempat berkembang bagi organisme yang sudah ada dalam paru-paru atau sistem pernapasan,
            Umumnya penyakit pneumonia menular secara langsung dari seseorang penderita kepada orang lain melalui media udara. Pada waktu batuk banyak virus dan kuman yang dikeluarkan dan dapat terhirup oleh anak lain yang berdekatan dengan penderita.
2.5    Pencegahan dan Pengobatan ISPA
a. Pencegahan
            Mengingat pencegahan lebih baik dari pengobatan maka sebaiknya pengelolaan ISPA dilaksanakan secara menyeluruh meliputi penyuluhan kesehatan yang baik, menggalakkan imunisasi dan penatalaksanaan penderita secara medik sebagaimana lazimnya. Walaupun morbiditas ISPA bawah relatif lebih kecil dari ISPA atas namun fasilitas klinik yang dibutuhkan dalam penanganannya sangat tinggi. Selayaknyalah pemberantasan ISPA bawah diprioritaskan dengan menitik beratkan usaha penekanan morbiditas ISPA bawah baik sebagai lanjutan ISPA atas atau tidak dan mortalitasnya.
      Dalam upaya pencegahan ISPA dapat dilihat dalam lima tingkat pencegahan, yaitu sebagai berikut:
1.       Promosi Kesehatan (Health Promotion)
Promosi kesehatan untuk pencegahan penyakit ISPA dapat dilakukan dengan berbagai upaya, antara lain:
a.    Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya menerapkan pola hidup sehat dan PHBS sejak dini.
b.   Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang cara-cara penularan pemberantasan serta diagnosa dini dari suatu penyakit seperti ISPA.
c.    Melakukan perbaikan lingkungan sosial seperti mengurangi dan menghilangkan kondisi sosial yang mempertinggi resiko terjadinya infeksi.
2.       Perlindungan Khusus (Spesifik Protection)
Perlindungan khusus dalam mencegah terjadinya penyakit ISPA dapat dilakukan dengan upaya antara lain:
a.    Perbaikan status gizi individu/perorangan ataupun masyarakat untuk membentuk daya tahan dalam tubuh yang lebih baikdan dapat melawan agent penyakit yang akan masuk ke dalam tubuh.
b.    Pemberian ASI Ekslusif kepada bayi yang baru lahir, karena ASI banyak mengandung kalori, protein dan vitamin yang banyak dibutuhkan tubuh, pencegahan ini bertujuan untuk membentuk sistem kekebalan tubuh.
3.       Diagnosis dini dan Pengobatan Segera (early diagnosis and prompt treatment)
Diagnosis dini dan pengobatan segera terhadap penyakit ISPA dapat dilakukan upaya antara lain:
a.    Temukan semua penderita secara dini dan aktif dengan cara diperiksa di sarana pelayanan kesehatan guna memastikan bahwa seseorang/bayi benar-benar tidak menderita ISPA.
b.   Melakukan pencarian penderita ISPA dan berikan segera pengobatan yang tepat serta sediakan fasilitas untuk penemuan dan pengobatan penderita agar tidak menularkan penyakitnya pada orang lain.
c.    Sediakan fasilitas yang memadai seperti laboratorium agar dapat melakukan diagnosa dini terhadap penderita, kontak, dan tersangka.
4.       Pemberantasan cacat (disability limitation)
Penyakit ISPA jika tidak diobati secara baik dan teratur akan dapat mengakibatkan kematian. Pemberantasan cacat dalam mencegah terjadinya penyakit ISPA dapat dilakukan dengan berbagai upaya diantaranya:
a.    Mencegah proses lebih lanjut dengan cara melakukan pengobatan secara berkesinambungan sehingga dapat tercapai proses pemulihan yang baik.
b.   Melakukan perawatan khusus secara berkala guna memperoleh pemulihan kesehatan yang lebih baik.
5.       Rehabilitasi (Rehabilitation)
Rehabilitasi dalam mencegah terjadinya penyakit ISPA dapat dilakukan dengan rehabilitasi fisik /medis apabila terdapat gangguan kesehatan fisik akibat penyakit ISPA.
Secara pencegahan terhadap ISPA dapat dilakukan dengan hal-hal sebagai berikut:
·     Menjaga keadaan gizi agar tetap baik.
·     Immunisasi.
·     Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan.   
·     Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.
b.     Pengobatan
Pengobatan meliputi pengobatan penunjang dan antibiotika. Penyebab ISPA atas yang terbanyak adalah infeksi virus maka pemberian antibiotika pada infeksi ini tidaklah rasional kecuali pada sinusitis, tonsilitis eksudatif, faringitis eksudatif dan radang telinga tengah.
            Pengobatan penderita penyakit ISPA dimaksud untuk mencegah berlanjutnya ISPA ringan menjadi ISPA sedang dan ISPA sedang menjadi ISPA berat serta mengurangi angka kematian ISPA berat. Adapun jenis pengobatannya :
a.      Pneumonia berat: dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik parenteral, oksigendan sebagainya.
b.     Pneumonia: diberi obat antibiotik kotrimoksasol peroral. Bila penderita tidak mungkin diberi kotrimoksasol atau ternyata dengan pemberian kontrmoksasol keadaan penderita menetap, dapat dipakai obat antibiotik pengganti yaitu ampisilin, amoksisilin atau penisilin prokain.
c.      Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan perawatan dirumah, untuk batuk dapat digunakan obat batuk tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung zat yang merugikan seperti kodein,dekstrometorfan dan, antihistamin. Bila demam diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol. Penderita dengan gejala batuk pilek bila pada pemeriksaan tenggorokan didapat adanya bercak nanah (eksudat) disertai pembesaran kelenjar getah bening dileher, dianggap sebagai radang tenggorokan oleh kuman streptococcuss dan harus diberi antibiotik (penisilin) selama 10 hari.
            Pengobatan penyakit ISPA juga dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu, salah satunya dengan merawat penderita di rumah sakit. Apabila perawatan untuk semua anak dengan penarikan dinding dada tidak memungkinkan, dapat dipertimbangkan untuk diberikan terapi antibiotik dirumah dengan pengawasan yang ketat pada anak yang tidak mengalami penarikan dinding dada hebat, sianosis, atau tanda penyakit yang sangat berat.
 Pengobatan selanjutnya yaitu memberikan oksigen, jika frekuensi pernapasan lebih dari 70, terdapat penarikan dinding dada hebat, atau gelisah. Penggunaan terapi antibiotik juga merupakan salah satu pengobatan dimana di berikannya bencil penisilin secara intramoskular setiap 6 jam paling sedikit selama 3 hari.(ampisilin secara intramoskular, walaupun mahal dapat digantikan bencilpenisilin). Pengobatan antibiotik sebaiknya diteruskan selama 3 hari setelah keadaan membaik. 


DAFTAR PUSTAKA
Asdie, H. Ahmad. 1995. Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Buku Kedokteran EGC. Jakarta
Daulay, Ridwan Muchtar. 1992. Kendala Penanganan Infeksi Saluran Pernafasan Akut. Cermin Dunia Kedokteran. Jakarta
Depkes  RI.(2000). Informasi  Tentang  ISPA  pada  Balita. Jakarta  : Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat.
WHO. Cough and cold remedies for the treatment of acute respiratory infection in young children. WHO;2001.